Monday, August 13, 2012

SRIWIJAYA FC: GAMBARAN IDEAL KLUB ISL



Musim kompetisi Indonesia Super League 2011/2012 telah berakhir. Namun, masih segar dalam ingatan kita betapa dominannya tim juara Indonesia Super League 2011/2012, Sriwijaya FC, sepanjang musim ini. Klub kebanggaan masyarakat Palembang ini mampu mengunci gelar juara tersebut ketika musim kompetisi masih menyisakan empat pertandingan bagi sebagian besar klub peserta liga, suatu pencapaian yang menjadi bukti sah dominasi tim berjuluk Laskar Wong Kito.

Gelar juara diraih melalui persaingan ketat dengan Persipura, tim yang selama tiga musim berturut-turut tidak pernah terlempar dari dua besar klasemen liga. Perpaduan antara semangat kekeluargaan, kerjasama tim yang apik, serta konsistensi yang ditunjukkan oleh para pemain Sriwijaya FC sepanjang musim menjadi modal penting bagi keberhasilan memenangi persaingan tersebut; sebuah perpaduan yang tidak dimiliki oleh pesaing terdekatnya asal Papua dan menjadi nilai lebih dari permainan tim Sriwijaya FC.

Musim ini Sriwijaya FC memang dinahkodai oleh pelatih baru yang minim pengalaman melatih di ISL, namun kekompakan di dalam lapangan tampak seperti sebuah tim yang sudah terbentuk selama beberapa tahun. Ya, kendati pemegang roda kepelatihan berpindah tangan, beberapa pemain kunci tetap dipertahankan. Sebut saja Keith Kayamba Gumbs, pencetak gol terbanyak Sriwijaya FC musim ini; Ponaryo Astaman dan Firman Utina, kekuatan utama di lini tengah Sriwijaya FC; M. Ridwan, pemain sayap langganan tim nasional; serta kiper Ferry Rotinsulu yang tetap setia menjaga gawang Sriwijaya FC sejak masih bernama Persijatim. Keberadaan pemain-pemain ini membawa pengaruh besar terhadap pola permainan tim yang sudah terbentuk beberapa tahun sebelumnya, dipadukan dengan tambahan kekuatan-kekuatan baru semacam Hilton Moreira, Lim Joon-Sik dan Jamie Coyne yang memiliki kualitas di atas rata-rata pemain ISL. Dengan racikan strategi yang tepat dari pelatih Kas Hartadi, permainan Laskar Wong Kito terlihat begitu menarik dan meyakinkan sehingga, pada akhirnya, menghasilkan gelar juara yang kedua sejak bergulirnya ISL.


Proses dan Visi Jangka Panjang

Permainan apik yang ditunjukkan oleh Sriwijaya FC sepanjang musim 2011/2012 memang dipengaruhi oleh peran para pemain yang memiliki kualitas bagus dan pendekatan yang dilakukan oleh Pelatih Kas Hartadi. Namun di balik semua itu, ada faktor lain yang juga bersifat mendasar, yaitu "proses". Proses ini telah dimulai sejak Sriwijaya FC terbentuk, menggantikan sebuah klub yang bernama Persijatim.

Pada tanggal 23 Oktober 2004 pihak klub Persijatim Solo FC dan Pemerintah Daerah Sumatera Selatan melakukan kesepakatan pengambilalihan Persijatim. Sejak itu, Persijatim berpindah markas ke Palembang, menempati Stadion Jakabaring yang sebelumnya telah dipersiapkan untuk menyelenggarakan PON XVI, dan berganti nama menjadi Sriwijaya FC yang merepresentasikan kebesaran Kerajaan Sriwijaya pada masa lalu. Dapat dikatakan, peristiwa tersebut merupakan peristiwa besar dan sangat penting dalam sejarah klub, bahkan dalam sejarah sepakbola Indonesia karena menjadi langkah awal dari perjalanan salah satu klub paling berprestasi di Indonesia.

Mungkin sebagian kalangan menilai bahwa prestasi Sriwijaya FC diraih secara instan dengan meneruskan kebesaran klub pendahulunya, yaitu Persijatim. Namun saya menilai, prestasi yang diraih oleh Sriwijaya FC merupakan buah dari proses bertahap dari perwujudan sebuah cita-cita. Sejak peristiwa pengambilalihan tersebut, Sriwijaya FC juga sempat mengalami jatuh bangun di tangan pelatih Eric Williams dan Suimin Diharja, di mana berturut-turut klub hanya menduduki peringkat 9 dan peringkat 6 wilayah barat Liga Indonesia pada musim 2005/2006 dan 2006/2007. Baru pada musim ketiga, ketika ditangani oleh Rahmad Darmawan, Sriwijaya FC mampu meraih gelar juara Liga dan Copa Indonesia; peristiwa yang menjadi landmark bagi sejarah perjalanan klub dan sepakbola Indonesia. Setelah itu, satu demi satu prestasi menyusul, yaitu:
·         Musim 2008/2009: Juara Copa Indonesia
·         Musim 2009/2010: Juara Copa Indonesia, Juara Community Shield Indonesia, Juara Inter Island Cup
·         Musim 2011/2012: Juara Indonesia Super League

Menarik jika menyimak bagaimana langkah-langkah yang diambil klub untuk merekrut pelatih dan pemain. Sejak Rahmad Darmawan hijrah dari Sriwijaya FC, pihak klub tidak pernah main-main dalam mendatangkan pengganti. Ivan Kolev didatangkan karena pernah mengubah tim nasional Indonesia menjadi sebuah tim yang tampil impresif saat Piala Asia 2007 dan diharapkan mampu menularkan performa tersebut ke Sriwijaya FC. Namun, hasil yang tidak sesuai harapan membuat Ivan Kolev lengser dan digantikan oleh Kas Hartadi. Walaupun tidak memiliki catatan melatih sebelumnya, terbukti pilihan klub tidaklah salah. Kas Hartadi membawa anak asuhnya meraih gelar juara kedua pada musim pertamanya melatih. Sebuah kepercayaan dari klub yang langsung dibayar lunas oleh Kas Hartadi. Hal yang sama juga terjadi dalam perekrutan pemain, di mana pemain-pemain yang direkrut merupakan pemain-pemain yang memiliki kelas dan kualitas, tidak melulu nama besar. Siapa yang mengenal Keith Kayamba Gumbs sebelum direkrut Sriwijaya FC? Atau membayangkan Supardi menjadi fullback andalan di sisi kanan dan bermain konsisten sepanjang musim 2011/2012? Siapa yang menyangka Gunawan Dwi Cahyo bisa melonjak karirnya ketika bermain di Sriwijaya FC dan menjadi bek andalan tim nasional?

Dari apa yang tampak di lapangan, masyarakat bisa melihat betapa seriusnya klub Sriwijaya FC membenahi diri dan berubah menjadi sebuah klub yang benar-benar profesional; bukan hanya sekedar perubahan status klub menjadi Perseroan Terbatas seperti yang banyak terjadi di kubu tim-tim lain. Selain itu, aspek-aspek lain yang bersifat non-teknis dan seringkali kurang mendapat perhatian pada klub ISL umumnya, seperti desain logo dan apparel, tidak luput dari perhatian klub. Aspek ini tentu saja penting bagi pencitraan klub dan menunjukkan jatidiri sebuah klub serta visi dan misinya.

Memang masih banyak hal belum dilakukan oleh Sriwijaya FC, atau mungkin hanya luput dari perhatian para pecinta sepakbola tanah air, semisal sistem pendidikan usia muda dalam klub, penjualan merchandise, atau kualitas website. Namun, proses yang telah berjalan selama 6 tahun terakhir menunjukkan adanya nilai-nilai positif yang tentu saja tercermin dari prestasi Sriwijaya FC yang terus menunjukkan grafik meningkat. Nilai-nilai positif ini tidak dicapai dalam waktu semusim atau dua musim, melainkan butuh waktu lebih dari itu. Sriwijaya FC telah membuktikannya dan patut menjadi contoh bagi klub ISL lain. Karenanya, masyarakat boleh berharap, untuk beberapa tahun ke depan target-target lain pasti akan terpenuhi; target yang lebih tinggi tentunya: BERSAING DI LEVEL ASIA.

No comments:

Post a Comment