Musim kompetisi Indonesia Super League 2011/2012 telah berakhir. Namun,
masih segar dalam ingatan kita betapa dominannya tim juara Indonesia Super
League 2011/2012, Sriwijaya FC, sepanjang musim ini. Klub kebanggaan masyarakat
Palembang ini mampu mengunci gelar juara tersebut ketika musim kompetisi masih
menyisakan empat pertandingan bagi sebagian besar klub peserta liga, suatu
pencapaian yang menjadi bukti sah dominasi tim berjuluk Laskar Wong Kito.
Gelar juara diraih melalui persaingan ketat dengan Persipura, tim yang
selama tiga musim berturut-turut tidak pernah terlempar dari dua besar klasemen
liga. Perpaduan antara semangat kekeluargaan, kerjasama tim yang apik, serta
konsistensi yang ditunjukkan oleh para pemain Sriwijaya FC sepanjang musim
menjadi modal penting bagi keberhasilan memenangi persaingan tersebut; sebuah
perpaduan yang tidak dimiliki oleh pesaing terdekatnya asal Papua dan menjadi
nilai lebih dari permainan tim Sriwijaya FC.
Musim ini Sriwijaya FC memang dinahkodai oleh pelatih baru yang minim
pengalaman melatih di ISL, namun kekompakan di dalam lapangan tampak seperti
sebuah tim yang sudah terbentuk selama beberapa tahun. Ya, kendati pemegang
roda kepelatihan berpindah tangan, beberapa pemain kunci tetap dipertahankan.
Sebut saja Keith Kayamba Gumbs, pencetak gol terbanyak Sriwijaya FC musim ini;
Ponaryo Astaman dan Firman Utina, kekuatan utama di lini tengah Sriwijaya FC; M.
Ridwan, pemain sayap langganan tim nasional; serta kiper Ferry Rotinsulu yang
tetap setia menjaga gawang Sriwijaya FC sejak masih bernama Persijatim. Keberadaan
pemain-pemain ini membawa pengaruh besar terhadap pola permainan tim yang sudah
terbentuk beberapa tahun sebelumnya, dipadukan dengan tambahan kekuatan-kekuatan
baru semacam Hilton Moreira, Lim Joon-Sik dan Jamie Coyne yang memiliki
kualitas di atas rata-rata pemain ISL. Dengan racikan strategi yang tepat dari
pelatih Kas Hartadi, permainan Laskar
Wong Kito terlihat begitu menarik dan meyakinkan sehingga, pada akhirnya,
menghasilkan gelar juara yang kedua sejak bergulirnya ISL.
Proses dan Visi Jangka
Panjang
Permainan apik yang ditunjukkan oleh Sriwijaya FC sepanjang musim 2011/2012
memang dipengaruhi oleh peran para pemain yang memiliki kualitas bagus dan pendekatan
yang dilakukan oleh Pelatih Kas Hartadi. Namun di balik semua itu, ada faktor
lain yang juga bersifat mendasar, yaitu "proses". Proses ini telah
dimulai sejak Sriwijaya FC terbentuk, menggantikan sebuah klub yang bernama
Persijatim.
Pada tanggal 23 Oktober 2004 pihak klub Persijatim Solo
FC dan Pemerintah Daerah Sumatera Selatan melakukan kesepakatan pengambilalihan
Persijatim. Sejak itu, Persijatim berpindah markas ke Palembang, menempati
Stadion Jakabaring yang sebelumnya telah dipersiapkan untuk menyelenggarakan
PON XVI, dan berganti nama menjadi Sriwijaya FC yang merepresentasikan
kebesaran Kerajaan Sriwijaya pada masa lalu. Dapat dikatakan, peristiwa
tersebut merupakan peristiwa besar dan sangat penting dalam sejarah klub,
bahkan dalam sejarah sepakbola Indonesia karena menjadi langkah awal dari
perjalanan salah satu klub paling berprestasi di Indonesia.
Mungkin sebagian kalangan menilai bahwa prestasi Sriwijaya FC diraih secara
instan dengan meneruskan kebesaran klub pendahulunya, yaitu Persijatim. Namun saya
menilai, prestasi yang diraih oleh Sriwijaya FC merupakan buah dari proses
bertahap dari perwujudan sebuah cita-cita. Sejak peristiwa pengambilalihan
tersebut, Sriwijaya FC juga sempat mengalami jatuh bangun di tangan pelatih Eric
Williams dan Suimin Diharja, di mana berturut-turut klub hanya menduduki
peringkat 9 dan peringkat 6 wilayah barat Liga Indonesia pada musim 2005/2006
dan 2006/2007. Baru pada musim ketiga, ketika ditangani oleh Rahmad Darmawan,
Sriwijaya FC mampu meraih gelar juara Liga dan Copa Indonesia; peristiwa yang
menjadi landmark bagi sejarah
perjalanan klub dan sepakbola Indonesia. Setelah itu, satu demi satu prestasi menyusul,
yaitu:
·
Musim
2008/2009: Juara Copa Indonesia
·
Musim
2009/2010: Juara Copa Indonesia, Juara Community Shield Indonesia, Juara Inter
Island Cup
·
Musim
2011/2012: Juara Indonesia Super League
Menarik jika menyimak bagaimana langkah-langkah yang diambil klub untuk
merekrut pelatih dan pemain. Sejak Rahmad Darmawan hijrah dari Sriwijaya FC,
pihak klub tidak pernah main-main dalam mendatangkan pengganti. Ivan Kolev
didatangkan karena pernah mengubah tim nasional Indonesia menjadi sebuah tim
yang tampil impresif saat Piala Asia 2007 dan diharapkan mampu menularkan
performa tersebut ke Sriwijaya FC. Namun, hasil yang tidak sesuai harapan
membuat Ivan Kolev lengser dan digantikan oleh Kas Hartadi. Walaupun tidak
memiliki catatan melatih sebelumnya, terbukti pilihan klub tidaklah salah. Kas
Hartadi membawa anak asuhnya meraih gelar juara kedua pada musim pertamanya
melatih. Sebuah kepercayaan dari klub yang langsung dibayar lunas oleh Kas
Hartadi. Hal yang sama juga terjadi dalam perekrutan pemain, di mana
pemain-pemain yang direkrut merupakan pemain-pemain yang memiliki kelas dan
kualitas, tidak melulu nama besar. Siapa yang mengenal Keith Kayamba Gumbs
sebelum direkrut Sriwijaya FC? Atau membayangkan Supardi menjadi fullback andalan di sisi kanan dan
bermain konsisten sepanjang musim 2011/2012? Siapa yang menyangka Gunawan Dwi
Cahyo bisa melonjak karirnya ketika bermain di Sriwijaya FC dan menjadi bek
andalan tim nasional?
Dari apa yang tampak di lapangan, masyarakat bisa melihat betapa seriusnya
klub Sriwijaya FC membenahi diri dan berubah menjadi sebuah klub yang
benar-benar profesional; bukan hanya sekedar perubahan status klub menjadi
Perseroan Terbatas seperti yang banyak terjadi di kubu tim-tim lain. Selain
itu, aspek-aspek lain yang bersifat non-teknis dan seringkali kurang mendapat
perhatian pada klub ISL umumnya, seperti desain logo dan apparel, tidak luput
dari perhatian klub. Aspek ini tentu saja penting bagi pencitraan klub dan
menunjukkan jatidiri sebuah klub serta visi dan misinya.
Memang masih banyak hal belum dilakukan oleh Sriwijaya FC, atau mungkin
hanya luput dari perhatian para pecinta sepakbola tanah air, semisal sistem
pendidikan usia muda dalam klub, penjualan merchandise,
atau kualitas website. Namun, proses
yang telah berjalan selama 6 tahun terakhir menunjukkan adanya nilai-nilai
positif yang tentu saja tercermin dari prestasi Sriwijaya FC yang terus
menunjukkan grafik meningkat. Nilai-nilai positif ini tidak dicapai dalam waktu
semusim atau dua musim, melainkan butuh waktu lebih dari itu. Sriwijaya FC
telah membuktikannya dan patut menjadi contoh bagi klub ISL lain. Karenanya,
masyarakat boleh berharap, untuk beberapa tahun ke depan target-target lain
pasti akan terpenuhi; target yang lebih tinggi tentunya: BERSAING DI LEVEL ASIA.
